Mitos Seputar kesehatan Reproduksi di Pesantren

Mereka terdiam ketika kami sampai pada pertanyaan “apa saja sih alat reproduksi temen-temen?”, lalu menjerit dan tertawa ketika salah satu dari kami bertanya “pernah melihat alat kelamin sendiri nggak, pernah ngacain nggak di vagina kita ada apa aja? Ada berapa lubang?”. Ketika sedikit didesak kenapa kaget dan tertawa? Mereka menjawab bahwa nggak boleh melihat alat kelamin sendiri nanti matanya minus, nanti mengurangi hafalan, nanti bodo, nggak konsentrasi belajar, dan banyak lagi jawaban-jawaban yang berakibat menghalangi mereka untuk lebih mengenal alat reproduksi dan seksual diri mereka sendiri.

Kemudian ketika berbincang tentang masturbasi dan onani, hanya beberapa dari sekitar 400 santri putri yang mengetahui atau pernah mendengar keduanya. Semua dari mereka menganggap bahwa masturbasi itu tidak dibenarkan dalam Islam, karena akan mempengaruhi psikologis orang yaitu menjadi pemalu, pendiam atau introvert. Bahkan ada yang mengatakan kalau masturbasi bagi perempuan akan menyebabkan kemandulan sedangkan bagi laki-laki akan mengurangi produksi sperma.

Percikan cerita tersebut adalah sekelumit cerita dari sekian banyak mitos tentang kesehatan reproduksi dan seksual ketika tim peneliti Fahmina melakukan penelitian kecil terkait pengalaman santri putri tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas di 15 pesantren di wilayah III Cirebon.

Cerita tersebut sekilas terlihat sepele, tetapi sebenarnya berdampak sangat besar pada kehidupan seksualitas mereka. Semestinya kita menjadi sadar bahwa kebutuhan santri akan kesadaran kesehatan reproduksi dan seksual tak bisa ditunda lagi, bahkan di saat kesadaran kesetaraan dan keadilan gender sudah masuk ke pesantren. Karena pemahaman gender dan kesehatan reproduksi masih menjadi kesadaran yang tidak terintegrasi, seolah berbeda padahal itu merupakan satu kesatuan, tidak dapat didikotomikan.

Selain kesadaran tentang pengetahuan kritis yang belum tertata rapi di pondok pesantren, seperti halnya gender, kesehatan reproduksi dan seksualitas juga tak lepas dari konstruksi sosial, mitos sangat kental dengan budaya atau tradisi. Masyarakat kita terbiasa dibungkam untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas, membicarakan organ vagina, rahim, penis, testis di publik merupakan hal yang di luar kewajaran, memperkenalkan alat kelamin anak dengan menggunakan bahasa-bahasa ‘tak langsung’ kepada penis dan vagina merupakan awal dibungkamnya pengetahuan tentang tubuh yang seharusnya, seolah ini menjadi aturan tak tertulis bahwa berbicara tentang alat kelamin adalah hal yang ditabukan.

Berbincang tentang masturbasi dan onani, Imam Hanafi dan Imam Hambali menyatakan bahwa masturbasi atau onani hukumnya mubah atau diperbolehkan, bagi seseorang yang memiliki dorongan seksual sangat tinggi padahal belum mampu menikah dan ditakutkan jika tidak melakukan masturbas atau onani akan membawa pada zina. Sedangkan, Imam Syafi’I secara tegas mengharamkan prilaku seks tersebut, dengan merujuk salah satunya pada surat Al-Mukminun ayat 5-7 yaitu “(sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu) orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali untuk pasangannya, barang siapa yang mencari dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melebihi batas”. Jika ditinjau dari segi medis, tidak disebutkan bahwa masturbasi atau onani dapat menyebabkan gangguan baik secara fisik maupun psikis, jika tidak dilakukan secara berlebihan dan tidak menggunakan benda/alat yang berbahaya.

Secara psikis, pengetahuan yang kurang akan kesehatan reproduksi dan seksual yang sehat akan mempengaruhi kehidupan kita pada saat memutuskan untuk melakukan hubungan seksual misalnya melalui pernikahan. Relasi pasangan yang tidak setara menyebabkan perempuan didominasi oleh kewajiban melayani dan membuat pasangannya terpuaskan, seperti dikutip dari tabloid Nova (selasa, 02/03/2010) bahwa 50 persen perempuan Indonesia merasakan dan tidak tahu apa itu kenikmatan puncak saat berhubungan seksual (orgasme). Menurut psikolog rumah tangga, Dra. Clara. I. Kriswanto, MA., dari Jagadnita Consulting Services, Jakarta keadaan seperti ini jika berlangsung terus menerus dapat menybabkan frustasi pada si perempuan. Keadaan seperti ini menjadi jelas, bahwa perempuan tidak pernah mendapatkan informasi yang laik, baik dari dunia pendidikan, lingkungan, maupun keluarga.

Negara kita, Indonesia, sudah berjanji untuk memenuhi hak akses informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi semenjak turut serta dalam Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994. Tetapi hingga sekarang belum terlihat kinerja Pemerintah Daerah bahkan Pusat yang berkonsentrasi penuh pada pemenuhan kebutuhan akses informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja tersebut, dus kurikulum pendidikan sangat minim membicarakan tentang kesehatan reproduksi dan seksual secara optimal, masih berputar soal organ-organ reproduksi itupun dengan penjelasan terbatas. Sekarang inilah menjadi tugas kita bersama untuk mendorong terpenuhinya hak informasi dan pendidikan tersebut, saatnya kita mempunyai kedaulatan yang penuh atas tubuh sendiri.

Alifatul Slatri Arifiat: seorang Aktivis perempuan yang bermukim di Cirebon, saat ini bekerja di Organisasi Pahmina Institute. Penulis juga pernah mengikuti Kursus Gender dan Seksualitas angkatan ke V

5 comments on “Mitos Seputar kesehatan Reproduksi di Pesantren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s