Gender, seksualitas dan Islam

Membongkar yang tabu,
Menelorkan hukum yang baru
Untuk generesi Indonesia yang tidak hanya satu

Pengantar
Untuk memasukkan issu seksualitas dan gender ke dalam lingkup agama, kita harus kembali ke pangkal lahirnya sebuah hukum (asal muasal lahirnya hukum). Dalam konteks hukum Islam –fiqh, selama ini diyakini oleh “sebagian masyarakat” sebagai sesuatu hukum berasal dari Tuhan –bersifat mutlak dan tidak bisa diutak atik. Akan tetapi, jika kita runut kebelakang, sesungguhnya hukum Islam tersebut adalah hasil interpretasi ulama terhadap ayat Alquran dan Hadist rasul. Fiqh klasik yang dijadikan pedoman hukum oleh para ulama tersebut didasarkan pada realitas hidup masyarakat saat dimana Imam Syafii hidup dan menulis kitab fiqh tersebut.

Dalam konteks ini, kita harus merunut bahwa; Dalam kehidupan beragama –khususnya Islam, diyakini adanya Tuhan. Kemudian Tuhan itu mengutus rasulnya untuk menyampaikan ayat ayatnya kepada manusia. Namun rasul pun memiliki keterbatasan tidak bisa menjadi perantara sampai akhir zaman, maka disitulah peran ulama. Dalam proses inilah ulama berperan untuk menafsirkan ayat allah dan hadist rasul dengan bahasa yang bisa dipahami dan dimengerti oleh umatnya.

Proses penafisiran yang dilakukan oleh ulama itu dimanifestasikan dalam “teks” yaitu kitab tafsir dan fiqih. Dalam hal ini ulama/mufassir/fuqaha adalah sebagai pengarang/author. Dalam teori Recour tentang author bahwa hasil tafsiran nya itu/teks yang ditulis oleh pengarang tidak serta merta ada begitu saja. Teks yang ditulis itu dipengaruhi oleh diskors-diskors yang ada disekelilingnnya –mulai dari latar belakang pendidikan pengarang, budaya, agama, keluarga bahkan ekonomi dan politik serta kekuasaan yang ada di tempat pengarag hidup saat itu.

Hal di atas tersebutlah yang menyebabkan kenapa terjadi perbedaan pendapat dan lahir banyak aliran dalam pemikoiran islam baik dalam hal aqidah maupun fikih. Missal; dalam akidah islam ada aliran ahlussunanah dan muktazilah. sesungguhnya Itu adalah penggolongan secara politik. Begitu juga dalam perberdaan empat mazhab yang terkenal dalam fiqih, ada imam Syafii, Hambali dan Hanafi serta Maliki. Keempat aliran itu terjadi peredaan pedapat karena berbeda latar belakang mereka. Dalam sejarah dikatakan bahwa Syafii adalah berasal dari desa yang kolot dan Hambali adalah dari kota yang cukup metropolitan. Beda hukum yang dihasilnya misalnya perbedaan diantara mereka missal tentang penafsiran tentang hal yang membatalkan wudhu’. Hukum tentang hal yang membatalkan wudhu. Diambil dari ayat “lamas” dalam alquran. Bagi Syafii “Lamas “ berarti bersetuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Sehingga hukum yang dilahirkan adalah bahwa yang membatalkan wiuduk adalah bersentuhan kulit antara laki laki dan perempuan yang bukan muhrim. Akan tetapi bagi Hambali, “lamas” berarti bersetubuh. Maka hukum yang dihasilkan adala yang membatalkan wuduk bagi Hambali adalah ketika perempuan dan laki laki dan perempuan bersetubuh.
Hal itu membuktikan bahwa hasil hokum itu relatif. Ia lahir dalam ruang dan waktu yang berbeda dan bisa berubah sesuai perubahan ruang dan waktu itu sendiri.

Agama dan seksualitas dalam tradisi islam
Terkait pada kontroversi terhadap hukum homoseksualitas adalah karena adanya penafsiran agama terhadap haramnya homoseksualitas yang dirujuk pada kisah nabi Luth. Dasar ayat yang digunakan dalam hukum ini adalah surat Assyuara, al Ankabut dan Hud.
Para ulama mendasarkan hukum haramnya homoseksual adalah surat Assyuara ayat 166 “ingatlah pada kaum Luth, sesungguhnya kamu melakukan perbuatan nista yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Kamu mendatangi laki laki dengan syahwat, maka sesungguhnya kamu adalah kaum yang melampaui batas”
Ayat tersebut menjadi landasan hukum bahwa haram homoseksual, karena ulama menafsirkan bahwa umat nabi Luth dihukum dengan bencana alam yang dahsyat karena prilaku homoseksual.

Salah seorang feminis muslim mencoba membongkar kekakukan hukum ini dengan menggunakan penafsiran dengan menggunakan metode tafsir tematik, yaitu penafisran ayat dengan ayat. Dimana ayat ayat yang merujuk pada satu tema – dalam hal ini adalah tema homoseksualitas dikumpulkan, kemudian satu ayat ditafsirkan dengan ayat yang lain.

Maka hasil dari penafsiran yang baru untuk fenomena homoseksual ini adalah bahwa sesungguhnya ditemukan fakta-fakta lain yang mengatakan bahwa sesungguhnya umat nabi Luth merupakan kaum paling dilaknat Allah karena memiliki prilaku:
1. mendustakan rasul
2. Tidak bertaqwa,
3. mendatangi laki laki
4. meninggalkan keluarga mereka
5. mengusir anggota masyarakat
6. penyamun
7. pesta bejat
8. mempermalukan otang
9. upaya pemerkosaan.

Jadi menurut Siti Musdah Muliah, bahwa tafsiran dari ayat tentang kisah kaum luth adalah karena mereka memiliki sifat diatas. Tidak ada satu ayat pun yang menemukan bahwa kaum Luth dihancurkan adalah karena prilaku homoseksual.

Begitu juga persoalan lesbian. Para ulama merujuk hukum haram terhadap lesbian adalah bahwa ayat al Al-A’raf ayat 83 “dan kami selamatkan Luth dan keluarganya, kecuali istrinya, sesungguhnya isrinya adalah termasuk orang orang yang tertinggal.”
Bagi para ulama ditafsirkan bahwa arti “tertinggal” adalah termasuk kaum homo. Padahal tidak ada indikator yang menyatakan itu adalah lesbian (suka sesame jenis) akan tetapi itu adalah bermakna tua. Dalam kata lain bahwa istri nabi Luth bagian dari orang yang tertinggal, bukan berarti mereka lesbi atau pelaku homoseksual, tapi karena ia tua renta.

Pencarian hukum baru yang rahmatan lil alamin:
Motede tafsir yang digunakan untuk menghasilkan hukum yang mampu menjawab persoalan umat adalah menggunakan Qiyas/ analogi /logika formal miliknya Aristetoles.
Dalam konteks ini digunakan metode pencarian hukum melalui penyususnan antara premis mayor, premis minor dan konklusi.

Missal:
Premis mayor : semua pasti akan mati
Premis minor ; Aristoteles adalah manusia
Konklusion : aristoteles akan mati

begitu halnya ketika mufasir menyamakan qiyas homoseksual dengan logika formal imam syafi’i
Missal :
Premis mayor : hubungan sejenis dilaknat
Premis minor: lesbian adalah hubungan sejenis
Maka konklusinya :lesbian dilaknat.
Namun dalam logika formal ini kita harus hati-hati, ketika premis mayor salah, maka konklusi pun akan salah.

Penutup
Sebagai penutup dari resume ini, maka saya ingin mengakiri tulisan ini dengan hasil perenungan saya sendiri; rasionalitas dari sebuah hukum “haram” adalah agar manusia tidak terjebak pada resiko yang tidak diinginkan. Misalnya dalil haram berbuat zina “la taqrabu zina”. Interpretasi saya terhadap ayat tersebut adalah dampak dari zina itu : diantaranya kehamilan tidak diinginkan, aborsi, penyakit menular dan lain sebagainya. Maka untuk menjaga umat manusia dari resiko yang tidak diinginkan tersebut, maka keluarlah dalil haram berzina. Bagi saya sendiri, sampai saat ini saya tidak melakukan ML adalah bukan karena alasan “dosa” akan tetapi lebih pada rasionlaitas saya untuk mengantisipasi dari resiko ML itu sendiri; jika nanti saya hamil, lalu bagaimana jika saya belum siap secara ekonomi ataupun psikologi –apakah saya aborsi? lalu bagaimana dengan aborsi dst. Maka begitu pula dengan persoalan homoseksualitas. Sesuatu yang haram itu bukan prilaku homoseksual itu sendiri akan tetapi resiko dan dampak dari prilaku itu. Artinya;ketika kita berbicara homoseksualitas, yang perlu diwaspadai adalah bukan prilaku seks antara lelaki dengan lelaki attau perempuan dengan perempuan, akan tetapi dampak dan resiko dari hubungan tersebut, apakah itu penyakit menular dan lain sebagainya.

Catt: tulisan ini resume hari ke 7 Kursus gender dan seksualitas yang diadakan Gaya nusantara dan Hivos. http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketujuh-gender-seksualitas-dan-agama/461170385680

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s