Megadick VS Kampung Lanang


Untuk “My beib”

Terimakasih atas kebersamaan yang luar biasa

Tertanda

Antok serean

Ku baca kembali tulisan tangan penulis di salah satu antologi terbitan Yayasan Lontar. Tulisan yang di dedikasikan untuk ku saat launching buku nya beberapa waktu lalu. Saat mata ini tak jua terpejam, saat rindu yang membuncah, saat perjalanan sore yang begitu membuatku belajar banyak tentang konsep seksualitas yang dipahami orang lain. saat Aku merasa telah sampai di Kampung Lanang nya Antok Serean.

SAYA TATAP DI GAPURA: Selamat Datang di Kampung Lanang. Sejuk angin pengunungan menyapu tengkuk. Desaunya seolah mengabarkan bahwa Saya telah tiba di tempat tujuan. Penat menguap. Saya merasakan Harapan hadir secerah mentari di musim semi. (kutipan Cerpen kampung Lanang pragraf pertama)

Aku memarkir kendaraan di tengah pemuda yang bergunjing di warung depan. Walau tak sesejuk hawa pengunungan seperti yang digambarkan Antok Serean. Debaran serasa sama saat aku meresapi perjalanan ke Kampung Lanang. Walau aku juga tak seberani Antok serean yang  datang sendiri. Bertiga pun, tetap membuatku tak mampu menebar pandang seperti burung elang.  Beberapa mata menatap ku , Sam dan Rangga. Aku kikuk. Nafas seolah tercekat di tenggorokan yang tiba-tiba mengering. Ku bergegas menyusuri Lorong  sempit. Kiri-kanan nya bangunan-bangunan berdiri kokoh. Beberapa  lelaki remaja mengelompok di pinggir lorong. Mereka  tersenyum penuh arti ke arah kami. Aku menunduk malu. Seperti gadis ABG yang dilirik remaja pujaaan nya.. Lewat seratus meter, Sam menarik tangan ku masuk ke sebuah bangunan.

“ ini Megadick” katanya singkat. Bangunan  berdiri tegak dengan cat warna hitam . Teras depan terlihat sepi, melewati pintu  Aku melihat dua orang resepsionis menyambut kami dingin. Di tekuk wajah nya di depan komputer tua.  Aku dan rangga duduk di depan pintu pas di samping meja yang berbentuk bundaran dari kayu. Sam sibuk berdiskusi mencari kamar.

Ini kali pertama ku sampai di Megadick.  kampung lanang Antok Serean mewujud nyata. Ada kelegaan saat memasuki nya.  Tempat ini seperti oase yang segar di tengah Jakarta panas menyesak dada bagi kalangan gay dan biseksual. Sejenak, ku terbayang kembali bait-bait cerpen yang pernah ku baca.  Pikiran ku membanding Megadick VS kampung lanang .

“Semua kamar penuh, kalau mau ada satu kamar. Hanya saja harus menunggu 30 menit lagi.” Sam balik.

“ mas saja yang masuk” kata rangga

“ Aku malu” muka ku memerah melihat beberapa lelaki menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku seperti budak yang hendak ditaksir harga. Tidak ada keberanian ku untuk mengangkat muka. Aku benar-benar tidak ingin sendirian di tempat ini.

Seorang pemuda masuk dengan langkah nya yang lebar.

“VVIP, VVIP aja” katanya. Aku terdiam. Sam menatap ku minta persetujuan.

“ harganya Rp 25.000-‘ per jam” sambung nya seolah tidak memberi waktu untuk berpikir.

“ Ok, kita ambil” cepat keputusan ku. Uang segitu tidak terlalu masalah buat mengobati rasa penasaran yang mengundah bathin ku selama ini dan rasa ingin menjauh secepat nya dari tatapan dingin sang resepsionis. Butuh dua tahun untuk mendorong keberanian ku bertandang ke Kampung Lanang, Kampung nya Para lelaki.

Pemuda tadi dengan cekatan membawa kami menyusuri selasar kecil memanjang, hanya cukup untuk dua orang berpapasan. Di kiri kanan  terdapat kamar-kamar kecil, beberapa pintu nya di biarkan terbuka. Semua isinya lelaki. Aku, sam dan rangga berjalan pelan. Beberapa mengedipkan mata. Kami tetap fokus mengikuti sang pemuda. Melewati Anjing Herder besar di Pojokan, dilanjutkan menaiki tangga ke lantai dua. Beberapa lelaki berbadan kekar  mengobrol di ujung tangga. Di lantai dua terdapat 14 kamar dan dua ruangan VVIP.  Di depan tangga berbaris empat belas kamar saling berhadapan.  kamar  di nomori mulai dari satu sampai empat belas. Dinding nya yang seleher membuat lelaki di dalam kamar, terlihat hanya kepala. Beberapa lelaki menyambut kami dengan tatapan penuh Arti. Berbelok ke samping sampai lah kami di VVIP.

Ruang VVIP adalah ruangan sebesar 2,5 x2 meter, berdinding kayu dan dialasi karpet. Komputer terpasang di pojokan kamar. Sam mulai menekan tuts power, dilanjutkan dengan menjelajah dunia Manjam.

“ kamu mau Chat?” tanya nya

“ Rangga aja” jawab ku, “aku jadi pengamat”.

“ Kamu aja da, aku ngak ngerti” rangga menolak sambil tiduran beralaskan dua bantal besar di pojok kamar.

“ MIRC aja”

“ jangan, kalo mau di Pop Messenger, lebih cepat ” jelas sam. Beberapa menit berikutnya beberapa obrolan berjalan. Tak sampai  dua puluh menit ,seseorang dari PC 12, telah sampai di Kamar kami. Badan nya tinggi, berkulit putih dan rambut pendek. Sepintas terlihat seperti aktor di film-film China.

“ Hai” sapa nya manis

“ Hai, silahkan Masuk!”

“Aku dari PC 12, namaku Randy, sedang ada pesta Di Sini? “

“ kami ke sini, karena Penasaran”

“ ingin mencoba pertualangan baru?” katanya sedikit menyelidik, mata nya nakal menjelajah. Seperti ingin menilik apa yang ada di balik baju  dan celana yang kami kenakan.

“kalau mau , aku mau jadi Obyek petualangan kalian” tawar nya mengoda kami.

“ jangan buru-buru” Tolak Rangga halus

“ gimana cara nya berkencan disini?

“ tinggal chat, atau jalan sepanjang selasar, beberapa kamar akan membuka pintu nya sedikit, jika suka mereka akan menarik tangan mu. Kalau mau bisa langsung dimainkan” Andy menjelaskan sambil tersenyum.

Aku berdiri kemudian membuka pintu. Menyusuri selasar dengan jalan perlahan.  langkah kaki membuat beberapa kamar membuka pintu sekitar sepuluh centi meter. Cukup untuk memastikan rupa, tubuh penghuni nya. Melewati pojokan, sebuah tangan menarik ku. Seorang lelaki, berwajah manis, berkulit bersih dan tubuh ramping mengajak ku mampir. Ku hampiri dia.  tangan nya dengan gesit Langsung memegang resleting celana ku.

“eits” aku mundur selangkah

“ Namaku Mario, kamu?”

“ Rudy”, jawab nya, tangan nya kembali memegang celana ku.

“ kamu tinggal dimana?”

“ deket sini” singkat jawab nya, dia seperti tidak ingin membuang waktu. Nafas nya menyesak .

“ punya Kondom?”

“ Tidak”

“ kamu mau di fuck di sini?”  tanya ku

“boleh aja” tangan nya sibuk ingin membuka resleting ku. Aku tetap memegang sekuat tenaga , sambil mengali informasi lebih lanjut.

“ suka datang kesini?”

“ kadang, jika kebutuhan muncul dan istri sedang dirumah” ia menjelajah sela paha ku

“tidak takut di lihat orang?”

“tidak, toh semua yang ada disini lelaki, malah sering ada Orgy di selasar ini jika malam tiba” aku merinding mendengar nya. Perlahan ku mundur.

“ Aku ke Toilet dulu” alasan ku, bergegas  kembali ke ruang VVIP yang kami pesan. Sam dan rangga terlihat mengobrol.

“dia kembali ke PC nya” jelas sam, saat kutanya kemana si PC 12 .

Matahari mulai meredup

Suara anak-anak mengaji terdengar lewat pengeras suara yang bercampur musik dari PC dan bunyi langkah kaki di selasar yang mulai ramai. Aku membuka pintu, melihat keluar. Seorang lelaki umur dua puluhan  bertelanjang dada di pojokan depan kamar ku. Seorang lain nya jongkok pas di bawah pusar. Dia melenguh setiap  goyangan kepala lelaki yang berjongkok. Menyadari aku melihat nya, dia malah menjulurkan tangan. Meremas tangan ku yang sedikit bergetar melihat pemandangan seksual di depan mata. Aku diam. Dia menarik tubuh ku mendekat. Seolah ingin berbagi kenikmatan yang ia rasakan. Aku tipe konvensional. Aku tak sudi berbagi untuk seks. Aku mundur selangkah dan menarik tangan Rangga untuk keluar kamar. Rangga menikamati pemandangan itu dan mendekat. Tiba-tiba si lelaki menghentikan aksi nya tepat di depan Rangga yang mematung di antara mereka.

sore ini perjalanan ke kampung lanang yang benar-benar luar biasa. Suatu wisata seksualitas yang mengugah iman dan keyakinanan ku sebagai lelaki konvensional. Seks yang aku Pahami sebagai sesuatu yang sangat pribadi dan tersembunyi porak poranda. Di Megadick, semua seperti menikmati seks  utuh. Ada kebebasan dan kemudahan untuk memilih  pasangan dan gaya yang mereka suka. Sebuah dunia yang tidak pernah terpikir  di benak ku.

Explorasi tanpa batas di Megadick membuat  seks menjadi otonom. Penikmatan seksual menjadi sesuatu yang dinikmati secara santai dan tanpa tekanan. Tak terikat akan aturan, norma apalagi cinta.  Karena di Megadick, semua seks berjalan tanpa Cinta. Seks hanya atas nama kepuasan seksual.

Agresifitas laki-laki terlihat dengan jelas. Mencari dan menemukan adalah kunci dari kepuasan. Sesuatu yang baru, sesuatu yang ditemukan lebih mendebarkan dibanding yang lama walau kualitas fisik dan kualitas seks jauh lebih baik.

Pikiran ku berkelana, membayangkan kampung Lanang di Cerpen Antok Serean. Kampung Lanang yang syarat aturan, Upacara, Pernikahan, Pesta .  Kampung lanang yang serba teratur dan penuh ketenangan . aku membandingkan dengan Megadick yang sangat crowded. Ingin ku melihat reaksi sang penulis jika datang ke Megadick .  Apa yang akan ia tulis setelah mengalami apa yang aku jalani weekend ini.

Risau ku juga membuat ku tidak bisa tidur, dua sahabat yang pernah ku dampingi lewat Positive Rainbow  kutemukan sedang asyik di Megadick.. tingkat penggunaan kondom yang rendah terutama untuk oral seks, dan pergantian pasangan yang sangat mudah membuat resiko penularan virus HIV dan Infeksi Menular seksual semakin cepat. Akankah Megadick turut menyumbang terhadap gelombang kedua peningkatan kasus infeksi baru HIV di kalangan Gay, Biseksual ?? Allahualam bissawab…

2 comments on “Megadick VS Kampung Lanang

  1. catatan rapi sederhana manun tetap exis….
    aku suka catatan nie…..
    oh ya lokasinya dimana tuh….
    pengen juga jalan2 kesana…

    aku jung
    085781760648

  2. makasih telah mampir di blog ku
    daerah nya di salah satu sudut jakarta
    Untuk alasan keamanan hubungi aku di 021 94461642 jika mau mengenal
    perlu sedikit hati hati untuk mengetahui temmpat seperti itu dengan alasan keamanan komunitas
    makasih
    salam
    Arel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s