17 Agustus 2010; identitas diri, heteronormativitas dan HIV di komunitas GWL


Jakarta , 17 agustus 2010 jam 00.01

Sisa hujan mengenangi jalan setapak yang diapit rumah-rumah bedeng sangat sederhana. aku dan Edo ( Voluenteer Positive Rainbow) meninggalkan perkampungan kumuh di Sudut perempatan jalan protokol Jakarta timur. Kami melakukan kunjungan ke rumah seorang Queer. Kesakitan yang disuarakan nya lewat facebook membuat edo dan aku berusaha menjenguknya.

Sang Queer , Danty ( nama samaran) mengalami pembengkakan kelenjer limpa. Lehernya membesar, tubuh panas dingin, badan mengurus dan mulai tumbuh jamur di beberapa bagian tubuhnya. Kami berdiskusi tentang pengobatan.Danty hanya pergi ke klinik kecil di pojok perkampungan. Aku melihat beberapa butir ciprofloxacin dan vitamin yang masih tersisa. Danty mengeluh tidak punya cukup uang untuk berobat ke rumah sakit dan puskesmas yang agak jauh dari rumah nya. Selama puasa ia tidak bekerja. Perusahaan catering yang mengajinya Rp. 650 000-, sebulan tutup. dua minggu lalu tivi dan handphone nya hilang ditilap sahabat sendiri. Tidak ada lagi barang berharga yang dia miliki.

Miris perasaan ku ketika tahu Danty tidak memiliki kartu identitas. Tinggal di gubug, menyulitkan pengurusan kartu identitas. Perkampungan ini tidak legal, kumuh dan tidak memiliki izin menjadi tameng para petugas untuk engan melayani. Harus bayar RP 350.000-, belum termasuk uang tip untuk pejabat Rt, RW dan kelurahan yang meminta bagian. kalau tidak ingin KTP selesai perayaan agustusan tahun depan. Itu pun kalo selesai. Bagi danty, itu lebih setengah dari penghasilannya sebulan. KTP tidak lebih penting dari bayar uang sewa bedeng yang Rp.200.000-,. menjadi warga negara resmi, warga negara tercatat tidak lagi jadi kebutuhan Danty. Tercukupi makan saja di Ibu kota sudah cukup bagi nya. Danty, warga negara miskin, kelahiran bumi pertiwi, pribumi asli, dengan bahasa Jawa medog, dianggap tidak berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Ini 17 agustusan 2010 loh, enam puluh lima tahun setelah UUD 45 menjamin bahwa pakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.Danty oh danty…….

Miris hati ku seperti rintik gerimis . Danty terbaring dengan bathin teriris. Sungguh tragis , tak ada pejuang yang tak kan tersenyum sinis. Ketika banyak pemimpin merayakan agustusan dengan wajah klimis, tersenyum manis. Danty ku, janganlah menangis…..

17 Agustus 2010 jam 13.00 WIB

Greg membuka album fhotonya. Dia bangga memperlihatkan fhoto-fhoto saat menjadi Atlit nasional salah satu cabang olahraga. Tubuh atletis dan wajah tampan adalah masa lalu nya. Greg, masih terlihat manis walau saat ini tubuh nya lebih sintal. ia tak suka aku bilang gendut. Beratnya 95 kg dengan tinggi 170 cm. Greg tinggal sendiri, pacar nya seorang pria yang disebut sebagai “lelaki” yang hanya datang saat membutuhkan nya atau istri nya sedang berhalangan. Greg merasa dirinya adalah wanita walau dalam keseharian tampil seperti lelaki “biasa”. Greg selalu melayani pacar nya dengan berperan sebagai perempuan dalam pakem tradisional yang harus menyiapkan makanan, pakaian, dan melayani kebutuhan seksual . greg sudah puas jika pacar nya puas. Senyum pacarnya saat kesenangan dilayani sudah membuatnya orgasme sendiri. Greg berpikir tidak berhak menuntut pelayanan yang setara dari sang pacar. Karena wanita dalam konsep Greg adalah pelayan yang harus “nrimo” perlakuan apapun. Beberapa kali Greg menangis padaku karena ditampar oleh pacar nya atau dipaksa membayar kekalahan di Meja Judi. Hubungan harus dibangun dalam relasi yang setara selalu ku pasak kuat di telinga Greg. Aku meyakinkannya tidak ada seorang pun yang berhak melakukan kekerasan dan penindasan dalam sebuah hubungan. konsep wanita adalah abdi pria yang melekat erat di keyakinan nya membuat kata-kata ku seperti memasak cadas yang padas. Ini 17 agustus 2010 loh, heteronormativitas masih mendarah daging dalam diri Greg yang homoseksual. Prinsip kesetaraan yang menjadi dasar dari kemerdekaan belum bisa dinikmati perempuan di Negeri ini. Jangankan Perempuan, wong yang hanya merasa perempuan saja, masih terhegemoni oleh konsep wanita sebagai abdi pria kok! Ada sisi lain dari kegagalan negara dan bangsa dalam mendidik dan memerdekakan semua jenis kelamin dan gender di negeri ini. Untuk orientasi seksual, tunggu dulu……..

17 agustus 2010 jam 16.00 WIB

Marvel tahu dirinya terinfeksi HIV kemaren. dia menelpon ku saat masih dirumah Danty. Marvel semalaman tidak bisa tidur, karena terkejut dengan hasil tes VCT, dan petugas rumah sakit hanya menemuinya 5 menit untuk pemberitahuan hasil. berhubung hampir tengah malam, diskusi kita sepakati di Sebuah mall . Pertemuan kita berlangsung di ruangan kosong lantai 3, ruangan dua kali luas lapangan basket, dengan tulisan gede ” SPACE INI DISEWAKAN UNTUK COUNTER” .Hati ku berpikir, pembangunan ini sia-sia, lima tahun berdiri tidak ada yang menyewa. Mengapa harus mengusur banyak rumah hanya untuk membangun ruang yang tidak berguna?. Masyarakat seperti danty butuh rumah dari pada tempat belanja. Tapi lagi-lagi itu hanya dalam hati. Berteriak pun percuma. Pemerintah saat ini sudah tak punya telingga untuk mendengarkan sesiapa. lebih baik fokus untuk melanjutkan diskusi dengan Marvel. Marvel yang sedang binggung dan berada dalam dilema.

Marvel, bercerita tentang ketakutan nya. Hiv adalah kematian dalam pikirannya nya. Penyakit yang belum ada obatnya. Lara hati karena masa depan yang menjadi mengambang. Pernikahan yang akan segera menyebar undangan . petugas kesehatan yang sebelah mata memandang. Dia bercerita mengetahui no telp ku dari pencarian di Google, karena menurutnya susah untuk menemukan pelayanan yang berbasis gay dan biseksual yang terinfeksi di Kota metropolitan sebesar Jakarta. Dalam bathinku, apalagi didaerah!

Marvel menangis mengiba. Air mata nya tumpah. aku memandang dengan tatapan hampa. Berkali-kali kucoba tenangin dia. Hidup mu masih sangat lama. Rubahlah air mata dengan tertawa. Bercandalah bersama kami yang berlatar sama. Tidak perlu mengiba pada sesiapa. Kita bisa bangun komunitas dengan menyatukan gerak langkah dalam tarian indah. Marvel tersenyum, ia seperti berada dalam keluarga. Memeluk ku mesra, tapi langsung kubilang kalo aku sudah ada yang punya. Dia tertawa. Aku berharap kabut duka di wajah nya benar-benar sirna. Ini 17 agustus 2010 loh, harus punya semangat untuk mengubah. Lakukan hal yang kecil agar semua menjadi mudah. Mulailah dari yang terdekat agar tak salah kata. Komunitas kita harus diperjuangkan seperti keberanian melawan penjajah. Bangkitlah Marvel, lawan semua stigma, senyumi setiap yang mencela dan jika mampu hajar jika ada yang berani membeda. MERDEKA!

17 agustus 2010 jam 18.00 WIB

Aku datang bersamaan dengan adzan Magrib, dirumah Suna. Suna tinggal bertiga. Dia dengan Prada di lantai bawah dan kakak nya dilantai dua. Prada dan Suna kedua terinfeksi HIV, dan sedang menjalani terapi rumahan untuk flek di paru nya. ARV nya ditunda, sampai dua bulan kemudian. Terapi paru tidak bisa bersamaan dengan ARV karena cara kerja kedua obat yang bisa merusak fungsi hati. Ini kali kedua, aku bertemu secara langsung. Semalam Suna memecahkan piring di kepala nya. Rasa putus asa membuat nya ingin segera menyelesaikan urusan di Dunia. Dia merasa tak punya muka ketika HIV membuat nya tergolek lemah . Pertanyaan mengapa dia terinfeksi membuat derita semakin parah. Aku selalu mendorong nya untuk terbuka pada keluarga. Karena pendapatku keluarga adalah tempat terbaik untuk penyembuhannya. Keluarga adalah adalah tempat berlabuh yang setia menerima.

Kakak nya turun tangga saat aku menyuap roti coklat dan kemudian meminum teh hangat yang disajikan Prada untuk berbuka. Karena dalam assestement sebelumnya ketakutan utama Suna adalah orientasi seks nya yang dianggap hina dan berdosa. Dia mengaku berasal dari keluarga yang beragama. Aku memulai diskusi dengan menjadikan diri ku terdakwa. Aku susah untuk mengaku berbeda. tapi demi kepentingan Suna tak apalah. Semua cara pantas dicoba. Kakak sunu terperangah ketika aku mengaku pekerja sosial dan berorientasi seksual berbeda. Aku gay, ingin membantu sesama.

Hampir sejam kami bertukar kata. Kakak Suna berusaha menghindar dari topik utama. Aku berusaha meyakinkan bahwa menerima Suna secara utuh, adalah pilihan bijaksana. Tak lupa ku tinggal lembaran foto copyan tentang homoseksual karangan Ibu Musdah Mulia beserta jurnal gandrung yang mengupas permasalahan yang sama. Harapan ku Agama seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang mulia.Tuhan yang maha pencipta mustahil akan setuju dengan penghinaan dan pelabelan salah , berdosa terhadap ciptaan NYA yang paling sempurna. Karena manusia Disisi Nya adalah sama. Orientasi seksual, gender, jenis kelamin, status sosial,ekonomi, Ras, dan bangsa hanya dibedakan dalam tingkat Taqwa dalam artian pengakuan atas kekuasaan NYA. Ini 17 agustus 2010 loh, sudah seharus nya kita sebagai bangsa dewasa. Enam puluh lima tahun kita telah merdeka dari penjajah. Dan saat ini seharus nya kita juga terbebas dari dogma, norma dan peraturan yang meniadakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan saat ini adalah kebebasan dan kesetaraan bagi semua warga negara. Itu baru Indonesia yang MERDEKA.

By posrainbow Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s