images weeding

NAYLA: Saatnya Untuk Memilih


Nayla mengeser ujung jilbab putihnya melewati pundak. Kedua jari lentiknya membuhul kedua ujung nya. Panas masih terik, ketika dia buru-buru menaiki bendi untuk segera pulang. Hatinya galau mamang. Begitu banyak tanya yang seharusnya bisa ia lontarkan. Mulutnya terkunci. Membisu dia, sejak tahu rahasia apa yang diungkapkan Salman. Terlalu sulit baginya, menerima kenyataan, tak siap kehilangan dan merasa dipermainkan.

Galau mamang karano cinto. Harok habih baputiah mato. Di siko badan raso taniayo. yo taniayo, nan taniayo . Jikok jauh badan lah dakek. Katiko dakek kato talompek. Disitu hancua janji nan diikek.
( berkecamuk hati karena cinta, harapan habis putih lah mata. Badan terasa teraniaya. Ya teraniaya. Teraniaya. Jika dahulu jauh, sekarang telah dekat. Ketika dekat dan bicara, Saat itu hancur janji yang diikat.)

” Sulit Nayla, untuk menerima kenyataan ini. Aku sendiri butuh dua belas tahun untuk bisa berdamai dengan diriku. Untuk memahami kalau aku berbeda dengan uda –uda ku. Untuk mengerti kalau Tuhan menciptakan aku mungkin dengan tujuan tertentu. Dan ihklasku untuk menjalani takdirku.” Salman memainkan garpu di Piring berisi rujak aneka buah.

Nayla tetap diam membisu.

” Aku menyayangi mu dengan tulus. Dua kali pertemuan kita sebelumnya, aku mempersiapkan diri untuk bicara tentang keadaanku. Tapi egoku selalu berontak setiap kali Nayla bercerita dengan kebencian pada duniaku.” Salman menatap mata teduh di wajah Nayla yang keibuan.

Salman kembali ingat saat Nayla mengecam perkawinan sejenis. Dalam keyakinanya, menyukai sejenis adalah penyakit, karena itu harus disembuhkan. Ia membawa laknat tidak hanya kepada pelakunya tetapi juga kepada masyarakat lingkungan sekitar.

“Empat puluh rumah di kiri, kanan, depan, belakang akan tertimpa azab tuhan jika perbuatan itu dibiarkan. Pelegalan pernikahan sejenis adalah tanda kiamat semakin dekat. “.  Salman ingat sekali komentar Nayla saat membaca buletin yang berisi pernikahan sepasang gay di Negeri Belanda.

Ketidaksukaan Nayla juga terungkap, saat bercerita tentang dua orang waria yang bersamanya di dalam Angkutan Kota. Nayla langsung turun dari Angkutan kota karena tak sudi berbagi tempat duduk bersama mereka.

“Allah mengharamkan lelaki berpakaian wanita,” kata Nayla di telepon dengan emosi yang tinggi. Ia menumpahkan kemarahan pada Salman.

“Apakah menurut Nayla, pakaian ada jenis kelaminya? sebegitu detailkah Allah mengatur manusia? ”

“Bukan Allah uda, tapi masyarakat. Hukum Allah menyesuaikan dengan budaya. Allah ingin ada Furqon yang tegas antara lelaki dan perempuan. Kalau lelaki, ya harus seperti lelaki. Islam agama yang tegas dan bukan ambigu. waria itu tidak jelas maunya, setengah-setengah. laki-laki tidak perempuan tidak. Allah mengutuk mereka.” Nayla mengoceh panjang lebar. Salman akhirnya diam di Ujung Telepon. Ia ingin membantah Nayla. Tapi percuma. Salman mengerti sifat-sifat dan tabiat nya.

Sejak Lima tahun lalu, Salman ingin bicara tentang dirinya yang berbeda. Roman yang tinggal serumah dengan nya di Jakarta. Cinta dan hasrat yang tidak hanya kepada wanita. Adiksi seks yang melenakannya. Malam-malam panjang pencariannya di Jalanan Ibu Kota. Beberapa kali Salman mencoba untuk terbuka. Selalu ada tembok besar yang menghalangi. Tembok keyakinan milik Nayla.

Cinta dan keinginan yang besar untuk menikah membuat Salman bicara. Ia tidak ingin berbohong sepanjang pernikahanya dengan Nayla. Kemunafikan sudah membuatnya ingin muntah . Jarak Jakarta dan Padang membuatnya bisa berkamuflase. Tapi jika telah bersama tak akan cukup waktu baginya untuk merubah wajah. Hati kecil meringkik agar lidah nya tak kelu di depan Nayla. Semua ini harus diungkap apapun resikonya. Aku harus mampu bisik hati kecilnya . harus…..

Nayla hanya menatap diam, saat ombak laut Padang menghempaskan diri ke Pantai pasir putih. Sepasang Camar bermain di Bibir ombak. Harapan nayla terbang melayang bersama kepak sayap nya.

” Aku memilih jujur agar kau bisa memilih ku dengan alasan yang sempurna. Andai pun Nayla memilih yang lebih baik dari ku. Aku ihklaskan untuk bahagiamu. Aku akan tetap menjadi abang mu”

Nayla diam sambil memelintir jari-jemarinya. Salman berbicara dengan muka pucat, terlihat kesungguhan di Wajahnya. Terlalu sulit baginya berbicara tentang hasratnya yang berbeda. Hasrat yang datang tanpa diminta nya. Ia masih ingat tentang mimpi basah pertama dua puluh tahun lalu. Bercinta bertiga di ruang sekolah. Ia berhasrat tidak hanya pada Lia tapi juga Jhon, kakak kelasnya. Orgasme dalam tidur itu menimbulkan rasa penyesalan luar biasa . Apalagi ketika di Sekolah mukanya merah saat berpapasan dengan mereka.Terbawa hasrat mimpinya ke alam nyata. Namun rasa takut dan bersalah,  membuatnya membatu sendiri. Ia sembunyikan mimpi itu pada teman, keluarga bahkan Nayla, sang kekasih permata hati.

Rasa sayang pada Nayla, yang menunggu selama bertahun-tahun, mendorongnya untuk terbuka. Bukankah kejujuran adalah puncak dari kasih sayang? Dan bukankah kejujuran awal yang baik untuk memulai hidup baru?. Hidup dalam rumah dengan dinding kayu mahoni, di Daerah Persawahan Lunang nan permai. Perjalanan mereka ke kota kerinci menautkan hati Nayla ke Desa itu. . Ingin nya bisa membesarkan anak-anak hasil pernikahan mereka diiringi dendang gemericik air sungai siang dan malam. Impian ini yang selalu ditulis Nayla dalam setiap suratnya selama ini. Salman tak punya satu kosa kata pun untuk menyanggahnya.

Taratak, pasanyo sanjo. Urang Jalamu, pai mangaleh. Taragak hati indak basuo. Lah batamu makonyo cameh. ondeh tuan oiiii… buruak nyo badan. De tuan oiiii…..
( Taratak, pasarnya senja. Orang Jalamu pergi jualan. Rindu hati ingin bertemu. Setelah bertemu menjadi cemas. Oh tuan… jeleknya nasib… oh tuan oi )

” Nay, aku tahu kesulitanmu untuk memahamiku. Aku tahu kondisi bathinmu, berpikirkanlah dengan tenang. Aku akan menunggu sampai kamu bisa mengambil keputusan. Ini akan jadi hari berat sebelum kepulanganku ke Jakarta. ” Salman menatap Nayla yang masih tertunduk tanpa bahasa. Dia berdiri dan pergi. Saat bersamaan, Nayla bangkit dan membenahi Jilbab putih nya yang melayang dibelai angin Pantai Padang nan permai.

Bandara Minangkabau dua hari kemudian

Salman siap berangkat ke Jakarta. Tangan menenteng sekardus oleh-oleh bermerk ” Puti Andam Dewi”, di Punggung tas ransel warna hitam seperti memberati langkahnya menaiki eskalator.Waktu nya untuk kembali ke Rantau. Mengumpulkan setiap mimpi lewat usaha keras.

Karatau madang di Hulu babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu dirumah paguno balun (pantun yg melandasi semangat merantau anak-anak muda Minangkabau )

Sekeping hatinya masih tertinggal bersama Nayla. Dua hari Nayla tanpa kabar. Salman tak ingin mempengaruhinya. Ihklas. Siap menerima apapun pilihan Nayla. Menjadi suami Nayla dengan kebohongan tidak lebih baik baginya dibanding dicampakan Nayla setelah kejujurannya.

Tiba-tiba Hp Salman berbunyi ” Da, masihkah uda mencintai Nayla setelah kejadian kemaren? Nayla belum siap untuk berpisah dengan alasan apapun.” Salman mencium Handphone dalam gengamannya.

Setengah berlari dia menuju pesawat yang siap membawanya ke Jakarta. Di sepanjang perjalanan hati salman berdansa dengan angan-angan nya. Lepas sudah semua keraguannya akan Nayla. Cinta telah membuat Nayla mau menerimanya.

Ruso kuniang tabang ka Rimbo. Rimbo ba pudiang basusun tigo. Susun katigo jadi pamenan. jadi pamenan. jadi pamenan. kaba carito tantang si Salman. Salmam barangkek jo hati sanang. Raso digangam cinto nyo kini. diambiak Laptop nan di Ranselnyo, di Sinan bakato-kato la inyo kini. Dirangkai huruf manjadi kato. disusun kato jadi kalimaik. jadilah surek untuak ka kampuang. Ikola isi sureknyo nan tun. Ka jadi basandiang yo jo Nayla. Yo jo Nayla…. yo jo nayla….

(Rusa kuning lari ke Rimba. Rimba dipenuhi puding ( sejenis tanaman perdu dengan daun berwarna warni aneka rupa, biasanya jadi pagar hidup di Taman dan rumah di Minangkabau tempo dulu) bertingkat tiga. Bagian ketika jadikan permainan. Jadikankan permainan. jadikan permainan. Salman berangkat dengan hati senang. Lewat laptop dipesawat ditulis surat ke kampung. Isi suratnya tentang rencana perkawinan nya dengan Nayla).

Jakarta Rabu, 30 September 2009 jam 18.00.

Salman baru sampai di Kontrakannya. TV one menyiarkan berita tentang bencana gempa terjadi di Padang dan Padang Pariaman. Bergetar badan nya. Pikirannya kalut. Rencananya untuk menelpon Nayla buyar ketika semua nomor yang menuju Nayla hanya dijawab operator. Pikiran nya terasa membatu. Raga nya seolah tak lagi bernyawa. Takut nya pada semua imajinasi tentang bencana yang dasyat. Semalaman dia bolak-balik dari teras sampai kamar mandi. Kekokohan jazad nya meredup. Salman terduduk di Pintu kamar. Berita tentang bencana Padang merengut semangat hidupnya yang bergelora sejak menerima SMS dari Nayla.

Kamis , 1 Oktober 2009 jam 16.00 di Bandara Soekarno Hatta

Salman terlihat pucat, Kaos putih nya belum diganti sejak keberangkatanya ke Jakarta. Rambutnya yang biasa rapih terlihat kusut. Tak terlihat lagi langkah mantap dan senyum yang menemani wajah klimisnya. Ia ingin secepatnya melihat Jazad Nayla yang ditemukan di Gedung Bimbingan belajar GAMMA tempatnya mengajar. Ia ingin memeluk Nayla untuk mengucapkan terima kasih atas Cinta dan kasih yang mampu memahami  perbedaan diri nya. **********

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s