Model Intervensi Case manajer dalam Positif Prevention pada ODHA PSL


Model Intervensi Case Manager dalam Positif Prevention Pada ODHA PSL

Pekerja Seks laki-laki mayoritas merupakan kaum urban yang datang ke wilayah perkotaan dan akhirnya memilih untuk menjadi pekerja seks karena beberapa alasan. Alasan tuntutan ekonomi, kesulitan untuk mendapat pekerjaan yang layak, keterbatasan sumber daya (Baca: Keterampilan dan wawasan) atau malah alasan mempertahankan ego untuk mandiri yang terlepas keluarga dan banyak lagi yang lainnya. Keterbatasan-keterbatasan itu akhirnya bermuara pada pilihan menjadi Pekerja Seks laki-laki, untuk mendapatkan materi guna memenuhi kebutuhan hidup di kota besar yang tentu saja sangat mahal. Masalah muncul ketika mereka terinfeksi HIV, Secara kualitas performance akan mengalami penurunan sejalan dengan perkembangan penyakit yang berujung pada penurunan pendapatan karena berkurangnya pelangan. Berkurangnya kualitas diri ( performance) akhirnya mengurangi kekuatan nego PSL pada pelanggan dalam saver seks. Ini tentu saja berbahaya tidak saja bagi pelanggan tetapi juga pada PSL nya sehubungan dengan re infeksi.

Intervensi manajer kasus dalam Positif prevention untuk PSL mengupayakan perubahan perilaku dan peningkatan harga diri PSL untuk berperan penting pada pemutusan mata rantai penularan. Positif prevention ditujukan untuk membangun kesadaran para ODHA akan pentingnya menerapkan prilaku aman dalam berhubungan dengan pelanggan nya untuk itu PSL harus mempunyai daya tawar yang cukup untuk bilang tidak bagi pelanggan yang tidak mau saver seks. Selanjutnya, Intervensi MK di ODHA PSL di harapkan akan menimbulkan keinginan dalam diri PSL untuk terlibat secara langsung dalam penanggulangan HIV/AIDS terutama di komunitas mereka .

Strategi yang diupayakan dalam konsep ini adalah lewat;

1. Edukasi, edukasi dilakukan lewat diskusi dan pembagian KIE. Untuk tujuan positif Prevention edukasi yang penting dilakukan adalah edukasi tentang kesehatan secara menyeluruh, edukasi tentang informasi layanan yang bisa di akses, Edukasi tentang konsep perubahan prilaku, Edukasi tentang pola hidup yang baik dan lain-lain.
2. Penerapan koncep BCC, Penerapan konsep BCC dalam hal ini memberikan serangkaian pilihan bagi Odha untuk menentukan cara mana yang baik dan sesuai untuk dirinya. Manajer kasus perlu menekankan bahwa abstinen dan memiliki pasangan tetap adalah cara yang paling baik dalam tujuan pencegahan penularan dan reinfeksi. Mk berperan dalam fungsi monitoring terhadap pilihan yang dilakukan.
3. Penambahan capacity building. Kegiatan ini merujuk pada serangkaian pelatihan yang di tujukan untuk menambah wawasan PPS terhadap banyak hal di komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini memberikan pelatihan tentang HIV/AIDS, Kesehatan seksual, dan lainnya
4. Peningkatan keterampilan yang siap pakai di pasar kerja. PPS di ikutkan pada pelatihan-pelatihan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat ODHA dan dibutuhkan oleh pasar. Mis: keterampilan menjahit, salon, Sablon, dan lainnya.
5. Penciptaan lapangan kerja lewat pengembangan jejaring oleh manajer kasus. dalam hal ini dilakukan advokasi kepada sektor publik terutama usaha kecil dan menengah untuk mau memperkerjakan ODHA dan bekerja sama dengan ODHA. Dan penciptaan suatu usaha yang di kendalikakan Lembaga tetapi mempekerjakan para Odha.
6. Dukungan untuk membangun hubungan dengan satu pasangan tetap. Dukungan lewat serangkaian konseling dan lebih ditekankan pada mengubah orientasi seks yang materialistis menjadi menikmati seks sebagai pleisure dan trauma healing.
7. Mengembangkan kelompok dukungan sebaya bagi pada PSL. agar ada kenyamaan dan dukungan yang pas buat ODHA PSL. Terutama dalam maintenance perubahan prilaku.

Penerapan srategi ini tercipta individu-individu yang mempunyai harga diri, punya kesadaran yang baik terhadap kesehatan diri dan lingkungan nya terutama dam konsep HIV STOP WITH ME, kemampuan untuk bersaing baik dalam komunitas PSL atau pun di masyarakat ; PSL akan mempunyai daya tawar lebih untuk saver sex dengan pelanggan karena performance diri yang meningkat dan kemampuan berbicara yang memadai. Di Masyarakat, ODHA akan mampu untuk bersaing baik sebagai pekerja ataupun sebagai wiraswastawan muda. Sehingga jika pada akhirnya mereka mentransformasi diri menjadi Abstinen atau punya pasangan tetap, hal itu dapat di dukung dengan kemandirian lewat kecukupan materi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Model dukungan Manajemen kasus pada PSL, haruslah lebih komprehensif, pemberdayaan tidak hanya menyangkut aspek kesehatan dan perubahan prilaku tetapi lebih ditekankan pada pegembangan capacity building dan keterampilan PSL. Yang berujung pada penciptaan Odha yang mandiri baik dalam isu kesehatan, sosial ataupun ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s